Abah mengalami gangguan pendengaran yang cukup parah. Bahkan suatu hari, beras yang baru dibeli Abah Caing tumpah di jalan karena plastiknya sobek tertusuk anyaman bambu. Ia tampak kebingungan, tak menyadari berasnya berhamburan meski orang-orang di sekitarnya memanggil. Setiap hari ia berkeliling menjual pisang dengan penghasilan sekitar Rp20–30 ribu, itupun bukan dari pisang miliknya sendiri. Bagian yang ia terima hanya cukup untuk makan seadanya.

Beban hidup Abah Caing tidak berhenti pada keterbatasan fisik dan ekonomi. Istrinya mengalami gangguan mental dan membutuhkan pendampingan, sementara anaknya memiliki keterbatasan berat—tidak bisa berbicara dan tidak bersekolah. Saat melihat anaknya muntah-muntah di sudut rumah, Abah hanya bisa menunduk pasrah. Rumah sederhana mereka menjadi saksi perjuangan yang nyaris tak terlihat oleh siapa pun, namun dijalani dengan kesabaran yang luar biasa.

#SahabatBaik, Abah Caing tidak pernah meminta dikasihani. Ia hanya ingin keluarganya bisa hidup sedikit lebih layak dan mendapatkan perawatan yang dibutuhkan. Uluran tangan kita dapat menjadi harapan baru bagi Abah Caing—membantu kebutuhan dasar keluarganya, meringankan beban hidupnya, dan menguatkan langkahnya untuk terus bertahan di tengah keterbatasan yang berlapis.
Legalitas
| Nama | : | Yayasan Bantu Beramal Bersama |
| Izin KEMENKUMHAM | : | AHU-0009568.AH.01.04.Tahun 2024 |
| Izin Kemenkeu (NPWP) | : | 19.875.390.7-542.000 |
| Izin NIB | : | 2706240049522 |
| Izin Domisili | : | 140/IV/2023 |
| Izin Dinsos | : | 846/564 |