Di usianya yang telah menginjak 75 tahun, Abah Sutikno masih memanggul karung besar berisi rongsokan, berjalan lebih dari 20 kilometer setiap hari. Karung itu ia bentuk seperti tas di punggungnya, diisi botol plastik, gelas bekas, dan kardus yang ia kumpulkan dari tempat sampah dan pinggir jalan. Langkahnya pelan, tubuhnya renta, tapi Abah terus berjalan karena hanya itu cara yang ia punya untuk bertahan hidup.

Sesampainya di rumah, rongsokan yang dikumpulkan Abah disortir satu per satu di pelataran rumah. Harga jualnya sangat kecil—Rp3.000, Rp4.000, paling tinggi Rp6.000 per kilogram. Dalam sehari, penghasilannya seringkali hanya sekitar Rp10.000. Uang itu bukan untuk dirinya, tapi untuk makan anak-anaknya. Bahkan, Abah kerap berangkat bekerja tanpa sarapan. “Biar anak-anak bisa makan,” kata Abah lirih, seolah itu hal biasa.

Ujian Abah tidak berhenti di situ. Anak perempuannya mengalami kebutaan permanen akibat gangguan kornea mata. Setelah lama berobat, dokter memvonis penglihatannya tak bisa kembali. Namun ketika ditanya apa yang ingin ia lihat jika Allah memberi kesempatan, jawabannya sederhana dan menampar hati: “Al-Qur’an.” Meski tak bisa melihat, ia tetap membantu pekerjaan rumah, menjaga adik laki-lakinya yang mengalami gangguan kejiwaan agar tidak kabur, dan terus mengingatkan untuk taat beribadah. #OrangBaik, Abah Sutikno adalah lansia yang tak pernah berhenti menafkahi, tak pernah berhenti bersyukur. Uluran tangan kita bisa meringankan langkah Abah, dan menjadi harapan bagi keluarganya agar hidup mereka sedikit lebih layak.
Legalitas
| Nama | : | Yayasan Bantu Beramal Bersama |
| Izin KEMENKUMHAM | : | AHU-0009568.AH.01.04.Tahun 2024 |
| Izin Kemenkeu (NPWP) | : | 19.875.390.7-542.000 |
| Izin NIB | : | 2706240049522 |
| Izin Domisili | : | 140/IV/2023 |
| Izin Dinsos | : | 846/564 |