“Ketika tenaga habis menahan lapar, bahkan mengayuh sepeda pun jadi taruhan nyawa” Pilu. Abah Udin, penjual aromanis keliling, terjatuh ke selokan saat mengayuh sepeda tuanya. Bukan karena dagangan yang berat, tapi karena perut kosong yang ia tahan sejak pagi. Tubuhnya melemah, pandangan berkunang, dan kayuhan sepeda tak lagi seimbang karena tenaga yang benar-benar habis.

Saking laparnya, Abah Udin hampir pingsan di jalan. Tangannya gemetar saat membungkus aromanis untuk anak-anak kecil yang membeli. Senyum tetap ia paksakan, meski tubuh renta itu jelas kelelahan. Hari itu hanya tiga bungkus aromanis yang terjual, hasilnya bahkan tak cukup untuk membeli seporsi makan sederhana, namun Abah tetap bertahan hingga sore.
Bagi Abah Udin, menahan lapar sudah menjadi keseharian. Ia lebih memilih kosongnya perut daripada berhenti berjuang. Di usia senja, sepeda tua itu menjadi satu-satunya tumpuan hidup, meski risikonya kian besar. Yuk kita ringankan langkah Abah Udin, agar tak ada lagi lansia yang harus mempertaruhkan nyawa hanya demi bisa makan hari ini.
Legalitas
| Nama | : | Yayasan Bantu Beramal Bersama |
| Izin KEMENKUMHAM | : | AHU-0009568.AH.01.04.Tahun 2024 |
| Izin Kemenkeu (NPWP) | : | 19.875.390.7-542.000 |
| Izin NIB | : | 2706240049522 |
| Izin Domisili | : | 140/IV/2023 |
| Izin Dinsos | : | 846/564 |