Di usia 66 tahun yang seharusnya digunakan untuk beristirahat, Pak Budi justru masih menyusuri jalanan kota dengan gerobak mainan tuanya. Setiap hari, ia berjalan lebih dari 10 kilometer, masuk ke gang-gang sempit dengan langkah yang semakin lunglai. Namun hasil tak selalu sebanding dengan tenaga. Tak jarang, seharian berjualan ia hanya mendapatkan Rp10.000-Rp20.000. “Kalau tidak ada yang beli, ya sudah, mungkin besok lebih baik,” ucap Pak Budi dengan senyum lemah.

Sepuluh tahun lalu, Pak Budi kehilangan istri tercinta. Sejak itu, hidup terasa semakin berat. Anak-anaknya harus bekerja sebagai asisten rumah tangga di luar pulau dengan kondisi ekonomi yang sama-sama sulit. Kini Pak Budi tinggal bersama anak bungsunya yang sudah menikah, berdesakan di kontrakan petak sempit bersama menantu dan cucunya, ditemani perabot tua yang serba terbatas. Cobaan tak berhenti di situ—anaknya pun menjadi korban PHK pasca pandemi dan harus bertahan dengan pekerjaan serabutan.

Pak Budi memiliki harapan sederhana, yaitu membuka warung kelontong kecil agar ia tak perlu lagi berkeliling jauh setiap hari dan bisa mendapatkan penghasilan yang lebih layak. Di usia senja, Pak Budi seharusnya menikmati masa tua, bukan terus memaksa tubuhnya bertahan di jalanan. #OrangBaik, mari ringankan beban Pak Budi. Uluran tangan kita bisa menjadi jalan agar Pak Budi hidup lebih aman, lebih layak, dan tidak berjuang sendirian.
Legalitas
| Nama | : | Yayasan Bantu Beramal Bersama |
| Izin KEMENKUMHAM | : | AHU-0009568.AH.01.04.Tahun 2024 |
| Izin Kemenkeu (NPWP) | : | 19.875.390.7-542.000 |
| Izin NIB | : | 2706240049522 |
| Izin Domisili | : | 140/IV/2023 |
| Izin Dinsos | : | 846/564 |