Sudah lebih dari satu bulan berlalu sejak bencana hidrometeorologi menerjang wilayah Aceh dan sekitarnya. Namun bagi masyarakat terdampak, khususnya di Kabupaten Aceh Tamiang, bencana itu seolah belum benar-benar pergi. Lumpur masih mengendap, puing masih berserakan, dan kehidupan belum sepenuhnya kembali ke titik semula.
Kabupaten Aceh Tamiang yang dikenal dengan julukan Bumi Muda Sedia menjadi salah satu wilayah terparah terdampak banjir bandang, angin puting beliung, serta hantaman lumpur dan kayu-kayu besar. Pemukiman warga, jalan, fasilitas kesehatan, sekolah, madrasah, hingga masjid mengalami kerusakan serius. Di banyak titik, aktivitas masyarakat terhenti bukan hanya karena kerusakan bangunan, tetapi karena hilangnya akses paling mendasar dalam kehidupan: air bersih.

Hingga hari ini, di sejumlah masjid dan fasilitas umum, sumber air bersih belum kembali berfungsi. Sumur bor rusak, jaringan PDAM terputus total, dan air yang tersisa hanyalah air lumpur sisa banjir. Kondisi ini memaksa sebagian warga menggunakan air yang tidak layak untuk mandi, mencuci, bahkan untuk kebutuhan ibadah. Risiko penyakit pascabencana pun semakin mengintai, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Masjid-masjid yang dahulu menjadi pusat kehidupan umat kini banyak yang terdiam. Lumpur setebal hingga hampir satu meter masih mengisi ruang utama, merusak Al-Qur’an, sajadah, pengeras suara, hingga tempat wudhu. Suara adzan yang biasanya menjadi penanda kehidupan kampung tak lagi terdengar. Anak-anak yang dulu meramaikan masjid dengan lantunan mengaji kini hanya bisa melihat bangunan itu dari kejauhan.
Di sisi lain, sekolah dan madrasah juga mengalami nasib serupa. Buku pelajaran rusak, meja dan kursi hanyut, ruang kelas tak lagi layak digunakan. Para guru yang juga menjadi korban bencana harus berjuang ganda: menyelamatkan keluarganya sendiri sekaligus mempertahankan masa depan pendidikan anak-anak di tengah keterbatasan.
Melihat kondisi tersebut, Pondok Pesantren Jamhariyah Kemanusiaan Tunarungu Grogolan Yogyakarta bersama jaringan relawan kemanusiaan bergerak untuk hadir langsung di tengah masyarakat terdampak. Misi ini bukan sekadar bantuan simbolis, tetapi upaya nyata untuk memulihkan kehidupan secara perlahan dan berkelanjutan.
Salah satu fokus utama yang direncanakan adalah pembangunan sumur bor air bersih untuk masjid dan fasilitas umum. Air bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi juga syarat utama keberlangsungan ibadah, pendidikan, dan kesehatan masyarakat pascabencana. Satu paket sumur bor lengkap dengan instalasi, toren, dan sistem pengendapan air membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sementara jumlah lokasi terdampak mencapai puluhan hingga ratusan titik.
Selain itu, posko kemanusiaan dirancang sebagai pusat koordinasi pemulihan, pembersihan masjid dan madrasah, serta perbaikan ringan fasilitas umum. Program ini juga dirancang secara inklusif dengan melibatkan relawan dari komunitas tunarungu, sebagai bukti bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk hadir dan mengabdi bagi kemanusiaan.
Bencana mungkin telah berlalu dari pemberitaan, tetapi krisis belum selesai di lapangan. Tanpa percepatan bantuan:
Masjid akan terus terdiam tanpa air wudhu dan aktivitas ibadah
Sekolah dan madrasah terancam gagal memulai kembali proses belajar
Risiko penyakit akibat air tidak layak akan semakin meningkat
Masyarakat akan semakin lama terjebak dalam kondisi darurat berkepanjangan
Waktu menjadi faktor yang sangat krusial. Semakin lama pemulihan tertunda, semakin besar dampak sosial, kesehatan, dan pendidikan yang harus ditanggung masyarakat.
Legalitas
| Nama | : | Yayasan Bantu Beramal Bersama |
| Izin KEMENKUMHAM | : | AHU-0009568.AH.01.04.Tahun 2024 |
| Izin Kemenkeu (NPWP) | : | 19.875.390.7-542.000 |
| Izin NIB | : | 2706240049522 |
| Izin Domisili | : | 140/IV/2023 |
| Izin Dinsos | : | 846/564 |