Di pedalaman Desa Sagu, NTT, suara anak-anak mengaji tetap terdengar, meski tanpa fasilitas yang layak. Mereka belajar dengan penuh semangat, namun harus bergantian menggunakan Iqra dan Al-Qur’an karena orang tua mereka tak mampu membelinya. Mayoritas warga bekerja sebagai nelayan, tapi hasil laut yang tak menentu akibat ombak besar membuat kehidupan semakin sulit. Untuk mendapatkan Al-Qur’an pun bukan hal mudah, harus menempuh perjalanan jauh dengan biaya yang sangat mahal.

Di tempat sederhana yang bahkan tak layak disebut ruang belajar, anak-anak yatim dan dhuafa ini tetap duduk bersila, mengeja huruf demi huruf. Bangunan TPA hanya beratapkan terpal, tanpa dinding yang melindungi dari angin dan hujan. Bahkan ada TPA yang kondisinya menyerupai kandang, rapuh dan hampir roboh. Namun di balik itu semua, semangat mereka tak pernah padam. Mereka datang setiap hari, berharap bisa belajar dan mengenal Al-Qur’an lebih dekat.

Para guru ngaji pun berjuang dalam diam. Tanpa bayaran, mereka tetap mengajar sambil harus melaut di malam hari demi mencukupi kebutuhan hidup. Orang Baik, di tengah keterbatasan ini, mereka tidak meminta lebih, hanya tempat belajar yang layak, Al-Qur’an yang cukup, dan kesempatan untuk terus menuntut ilmu agama. Mari kita bantu wujudkan harapan mereka, agar anak-anak di pedalaman ini bisa mengaji dengan nyaman dan masa depan mereka lebih terang.
Legalitas
| Nama | : | Yayasan Bantu Beramal Bersama |
| Izin KEMENKUMHAM | : | AHU-0009568.AH.01.04.Tahun 2024 |
| Izin Kemenkeu (NPWP) | : | 19.875.390.7-542.000 |
| Izin NIB | : | 2706240049522 |
| Izin Domisili | : | 140/IV/2023 |
| Izin Dinsos | : | 846/564 |