“Wingi mbuh laku piro... sing penting nyoba terus, ben iso mangan sesuk,” tutur Mbah Panijo dengan suara pelan namun penuh keteguhan hati. Di usianya yang sudah 61 tahun, Mbah masih setiap pagi berangkat ke pasar untuk mengambil gorengan, minuman, dan jajanan pasar. Semua itu Ia pikul sendiri lalu dijual keliling dari pagi hingga sore. Jika dagangannya belum habis, Mbah rela berjalan lebih jauh ke kampung sebelah demi menghabiskan jualan agar bisa makan esok hari.
Mbah Panijo tak pernah menikah. Bukan karena tak ingin, tapi karena takut tak mampu menghidupi istri dan anak nantinya. Saat ini, Ia tinggal menumpang di rumah kakaknya. Mbah hidup sendiri tanpa banyak tempat bersandar, hanya bertumpu pada hasil jualan harian yang kadang laku, kadang tidak. Dari penghasilannya, Mbah hanya mendapatkan keuntungan sekitar 10 ribu rupiah per hari, sebab sebagian besar uang harus disetorkan ke pedagang tempat Ia mengambil dagangan.
Tak hanya usia yang menua, tapi penglihatannya pun mulai kabur. Mata kanannya hampir tak bisa melihat, sehingga saat menyusuri jalan untuk berjualan, Mbah sering hampir terserempet kendaraan. Namun itu tak membuatnya berhenti. Dalam hatinya, Ia hanya ingin punya modal kecil agar bisa berjualan menetap di satu tempat, tidak lagi harus berjalan jauh dan berisiko. Meski sederhana, harapan Mbah Panijo sangat besar artinya bagi kehidupannya yang sepi dan penuh perjuangan. Yuk bantu Mbah Ponijo hidup layak di usia senjanya.

Legalitas
| Nama | : | Yayasan Bantu Beramal Bersama |
| Izin KEMENKUMHAM | : | AHU-0009568.AH.01.04.Tahun 2024 |
| Izin Kemenkeu (NPWP) | : | 19.875.390.7-542.000 |
| Izin NIB | : | 2706240049522 |
| Izin Domisili | : | 140/IV/2023 |
| Izin Dinsos | : | 846/564 |