Ada amalan yang pahalanya terus mengalir meski usia berlalu, yaitu wakaf. Salah satunya adalah mewakafkan Al-Qur'an Isyarat untuk para santri tunarungu yatim dan dhuafa yang sedang berjuang menjadi penghafal Al-Qur'an. Di berbagai pesantren tunarungu dan tempat mengaji di pelosok Indonesia, puluhan santri belajar membaca dan menghafal Al-Qur'an menggunakan bahasa isyarat di tengah segala keterbatasan. Dengan fasilitas yang sangat sederhana dan jumlah mushaf yang terbatas, mereka tetap datang setiap hari membawa semangat yang luar biasa untuk mencintai Kalamullah.

Di tempat mengaji tidak terdengar lantunan ayat suci seperti di pesantren pada umumnya. Yang tampak hanyalah tangan-tangan kecil yang bergerak perlahan mengikuti isyarat demi menghafal setiap ayat Al-Qur'an. Bangunan belajar mengaji masih sederhana dan sangat tua, sementara mushaf Al-Qur'an Isyarat yang tersedia belum mencukupi kebutuhan para santri. Mereka memiliki semangat yang begitu besar untuk menghafal Al-Qur'an, tetapi harus bergantian menggunakan mushaf karena jumlahnya sangat terbatas. Para asatidz pun terus berjuang memenuhi kebutuhan santri dengan kemampuan yang mereka miliki, meski biaya operasional masih jauh dari cukup.
Allah SWT berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu..." (QS. Al-Baqarah: 254). Rasulullah ﷺ juga bersabda, "Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim). Melalui wakaf Al-Qur'an Isyarat atas nama orang tua, insyaAllah setiap huruf yang dibaca, dihafal, dan diamalkan para santri akan menjadi aliran pahala jariyah yang tak terputus. Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk pengadaan Al-Qur'an Isyarat serta mendukung fasilitas belajar santri tunarungu di berbagai pelosok Indonesia. Mari bersama #KawanKebaikan hadirkan lebih banyak mushaf, tebarkan cahaya Al-Qur'an, dan hadiahkan pahala terbaik untuk kedua orang tua melalui wakaf hari ini.